Jumat, 19 Februari 2010

BAB II PENGERTIAN AGRIBISNIS

A. DEFINISI

B. KARAKTERISTIK

C. RUANG LINGKUP

D. KLASIFIKASI

 

A. DEFINISI

Pemahaman agribisnis dilakukan dengan menelusuri asal kata agribisnis yang berasal dari bahasa Inggris, kata Agribusiness merupakan penggabungan kata agri dan business. Kata agri berasal dari kata agriculture (Pertanian, Indonesia). Pertanian dalam arti luas adalah mata rantai proses pemanfaataan atau pemanenan energi surya melalui kegiatan fotosintesis baik secara langsung atau tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan manusia secara berkelanjutan. Bisnis menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007) berarti usaha komersial dalam dunia perdagangan. Bisnis dapat diartikan sebagai aktivitas manusia yang bertujuan mencari keuntungan.

Secara lengkap, agribisnis dapat diartikan sebagai proses pemanenan energi surya melalui kegiatan fotosintesis, secara langsung atau tidak langsung yang dimanfaatkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya secara berkelanjutan dan bertujuan mencari profit. Secara singkat agribisnis dapat diartikan aktivitas bisnis berbasis pertanian yang berkelanjutan.

Agribisnis menurut www.wikipedia.or.id adalah kegiatan manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Agribisnis juga dapat diartikan sebagai suatu cara pandang ekonomi bagi kegiatan dalam bidang pertanian. Agribisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, pasca panen, proses pengolahan hingga tahap pemasaran. Secara luas, agribisnis berarti bisnis berbasis sumberdaya alam

Menurut Downey dan Erickson (1992), agribisnis meliputi keseluruhan kegiatan manajemen bisnis mulai dari perusahaan yang menghasilkan sarana produksi bagi usaha tani, usaha proses produksi pertanian, serta perusahaan yang menangani pengolahan, pengangkutan, penyebaran, penjualan secara borongan maupun secara eceran kepada konsumen akhir.

Menurut Davis and Goldberg (1957), agribisnis merupakan seluruh operasi yang terkait dengan manufaktur dan distribusi suplai pertanian, aktivitas produksi di pertanian, penyimpanan, proses dan distribusi komodi pertanian serta segala sesuatu yang terbuat darinya.

(Agribusiness is the sum total of all operations involved in the manufacture and distribution of farm supplies; production activities on the farm; and storage, processing and distribution of farm commodities and items made from them).

Menurut Beierlein and Woolverton (1991), agribisnis termasuk tidak hanya usaha pertanian di lahan tetapi juga SDM dan usaha yang menyediakan input (benih, kimia, kredit), proses hasil pertanian (susu, biji-bijian, daging) , manufaktur produk pangan (es krim, roti, serealia), dan transportasi serta penjualan produk pangan ke konsumen (restoran dan supermarket).

(Agribusiness includes not only those that farm the land but also the people and firms that provide inputs (e.g., seed, chemicals, credit), process the outputs (e.g., milk, grain, meat), manufacture the food products (e.g., ice cream, bread, breakfast cereals), and transport and sell the food products to consumers (e.g., restaurants, supermarkets).

Schaffner, Schroder and Earle (1998), Sistem pangan termasuk suplier input usaha tani, produsen pertanian, suplier ikan dan hasil berburu, produsen produk fermentasi, suplaier kemasan, proses dan manufaktur, pedangan komoidi, grosir, pengecer produk pangan, restoran, institusi dan fasilitas industri seperti transport, finansial dan pasar berjangka.

(The food system includes suppliers of farm inputs, agricultural producers, suppliers of fish and game, producers of fermentation products, packaging suppliers, processors and manufacturers, commodity merchants, wholesalers, food retailers, restaurants, institutions, and facilitating industries, such as transport, finance and future markets).

Sistem agribisnis adalah (Ujang Sumarwan, 2004): menangkap arti sesungguhnya dari istilah agribisnis adalah penting untuk memvisualisasikan beberapa sektor sebagai bagian yang saling berhubungan pada suatu sistem dimana keberhasilan setiap bagian amat tergantung pada ketepatan fungsi dari sektor lainnya.

(To capture the full meaning of the term agribusiness it is important to visualize some sectors as interrelated parts of a system in which the success of each part depends heavily on the proper functioning of the other sectors).

Saragih (1998) mengemukakan bahwa sistem agribisnis terdiri atas empat subsistem, yaitu: (a) subsistem agribisnis hulu atau downstream agribusiness, (b) subsistem agribisnis usahatani atau on-farm agribusiness, (c) subsistem agribisnis hilir atau upstream agribusiness, dan (d) subsistem jasa layanan pendukung agribisnis atau supporting institution.

B. KARAKTERISTIK AGRIBISNIS.

Karakteristik agribisnis, yang menerangkan ciri-ciri agribisnis yaitu terdapat aktifitas pemanenan energi surya, ada kegiatan fotosintesis, ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia, bersifat berkelanjutan dan berusaha mendapatkan profit. Detil karakteristik agribisnis adalah sebagai berikut:

1. Pemanenan energi surya

Adanya agribisnis karena adanya perubahan energi matahari kebentuk energi yang bermanfaat bagi manusia atau dengan kata lain sumber agribisnis adalah aktivitas pemanenan energi surya secara langsung maupun tidak langsung melalui kegiatan fotosintesis. Aktivitas pemanenan energi surya telah dipelajari oleh para ahli biologi dan dikenal dengan istilah ekologi produksi yaitu memperhatikan intensitas energi penyinaran pada fotosintesis kemudian proses pengubahannya menjadi energi kimia beserta mempelajari aliran energi melalui tanaman dan hewan.

Para ahli masih mempelajari dan berusaha untuk (adopsi dari Buku Pengantar Agronomi M.M. Sri Setyati Harjadi, 1996) :

  • Meningkatkan efisiensi penangkapan energi penyinaran karena pada umumnya energi cahaya yang ditangkap oleh tanaman berkisar 1%-2%, sedangkan sebagian besar energi cahaya digunakan untuk penguapan dan transpirasi air.
  • Meningkatkan efiesiensi fotosintesis dalam menghasilkan energi kimia. Energi hasil foto sintesis sebagian besar digunakan untuk respirasi (proses pembakaran biologi dari persenyawaan karbon yang kaya energi).
  • Mempelajari cara-cara pemindahan energi (aliran energi) dari satu organisme ke organisme lain yang dikenal dengan istilah jaringan pangan atau rantai pangan. Rantai pangan dapat juga diartikan sebagai urutan organisme yang dilewati aliran enegri dalam satu komunitas. Dalam setiap rantai pangan, umumnya selalu dimulai dari produsen dan berakhir di organisme pengurai, agar dapat digunakan kembali oleh produsen. Aliran energi merupakan perpindahan energi satu arah dari produsen ke konsumen, dan setiap kali terjadi perpindahan energi akan selalu ada energi yang hilang. Hal ini sesuai dengan hukum Thermodinamika II yang menyatakan bahwa setiap perpindahan energi terdapat energi yang hilang. Semakin tinggi level perpindahan energi maka jumlah akumulatif energi yang hilang semakin tinggi, sehingga untuk memperoleh konversi energi paling efisien adalah mengkonsumsi tanaman dan hewan herbivora.

Berdasarkan tiga hal tersebut diatas, dapat dibedakan keefisienan ekologi dari berbagai organisme dalam rantai pangan. Keefisienan ekologi diukur dengan keefektifan:

  • Penyinaran energi surya yang dapat ditangkap.
  • Pengubahan biomass suatu organisme ke biomass lainnya (tumbuhan atau hewan)

Respirasi dan produksi bahan-bahan tidak tercerna seperti kuku, tulang, gigi, bulu dan kulit akan mengurangi keefisienan ekologi karena berkurangnya efisiensi konversi energi rantai pangan dalam satu komunitas.

2. Proses fotosintesis

Proses fotosintesis merupakan proses dimana air dan karbondioksida diubah menjadi senyawa organik karbon serta energi, dengan bantuan energi cahaya. Secara ringkas fotosintesis adalah pengubahan energi fisika cahaya menjadi energi kimia melalui bantuan klorofil. Bila proses fotosintesis terganggu maka akan berdampak pada agribisnis pula, atau dengan kata lain ada ketergantungan agribisnis pada proses fotosintesis

Fotosintesis dapat terjadi terutama karena adanya dua jenis klorofil (klorofil a & klorofil b) yang terdapat pada kloroplas dalam sel hidup. Ada dua urutan reaksi fotosintesis, terbagi menjadi fase cahaya (reaksi yang memerlukan cahaya) dan fase reaksi fase gelap (reaksi yang tidak memerlukan cahaya). Pada fase cahaya, suhu tidak mempengaruhi proses fotosintesis dimana terjadi penangkapan energi cahaya dan pemecahan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen. Oksigen dilepaskan dalam bentuk gas, sedangkan hidrogen akan diikat dalam senyawa kimia. Pada fase gelap, proses kimia amat dipengaruhi suhu dimana terjadi pengikatan hidrogen kedalam senyawa kimia sekaligus membentuk karbohidrat, pati atau gula sebagai sumber energi.

3. Pemenuhan kebutuhan manusia

Agribisnis bermula dari barter antar manusia untuk memenuhi kebutuhannya, sejalan dengan perkembangan peradaban manusia maka agribisnis berkembang pula dengan adanya bursa komoditi. Satu hal yang penting adalah dasar agribisnis adalah pemenuhan kebutuhan manusia sehingga muara produk-produk agribisnis adalah kebutuhan manusia.

Agribisnis ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Hal ini ada kaitannya dengan efisiensi konversi energi. Para ahli biologi telah memahami manusia merupakan organisme yang kompleks susunan tubuhnya dan semakin komplek susunan tubuh organisme berarti semakin besar energi yang diperlukan untuk memelihara sistem-sistem tubuh organisme tersebut.

Manusia memperoleh energi dari tanaman dan hewan, para ahli memperkirakan keperluan satu manusia dewasa dalam memenuhi kebutuhan energinya selama setahun diasumsikan memerlukan pangan 1 ton daging/tahun dan 8.5 ton nabati/tahun. Andaikan di tahun 2010 populasi manusia telah mencapai 8 milyar maka populasi manusia akan memerlukan 8 milyar ton daging dan 68 milyar ton nabati, suatu volume yang amat besar. Hal ini menjadi tantangan dan peluang bagi agribisnis untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

4. Bersifat berkelanjutan

Bersifat berkelanjutan berarti menjaga kelestarian dan menjaga adanya rantai pasokan pangan dari organisme ke organisme lain. Penting untuk diketahui bahwa organisme hidup itu tersusun dari berbagai unsur yang berasal dari biosfir (biosfir = semua bagian bola dunia yang dapat dihuni oleh makhluk hidup) sehingga manusia wajib memperhatikan kondisi biosfir agar tetap dapat menyangga dan menjadi tempat kehidupan manusia.

Hampir seluruh komponen biosfir (tanah, air dan udara) telah terkena dampak akibat perbuatan manusia. Kenyataan ini mengganggu keseimbangan mata rantai hubungan timbal balik antar komponen biosfir. Beberapa dampak perbuatan manusia bagi biosfir yang telah terjadi :

  • Krisis SDA karena degradasi kualitas SDA atau dengan kata lain terjadi krisis ekologi karena kerusakan lingkungan.
  • Krisis SDM karena masalah kependudukan (kelaparan), sosial (konflik), ekonomi (kemiskinan).
  • Krisis akibat IPTEK karena penyalahgunaan atau eksploitasi
  • Meningkatnya kompetisi pasar karena perlombaan negara-negara dalam memakmurkan diri.
  • Semakin tingginya permintaan akan sumber daya finansial
  • Semakin komplek dan dinamisnya perkembangan orgasasi

Krisis sumberdaya alam telah meliputi pencemaran tanah, pencemaran air dan pencemaran udara, menyebabkan menurunnya produktifitas tanaman sebagai produsen. Sedangkan krisis SDM terjadi karena ledakan populasi. Krisis IPTEK terjadi karena penerapannya hanya mempertimbangkan pertimbangan ekonomi, politik atau alasan lainnya tanpa mempertimbangkan dampak ekologi.

Muara agribisnis adalah pemenuhan kebutuhan manusia, selama manusia ada maka selama itu pula produk-produk agribisnis diperlukan sehingga agribisnis mutlak harus berkelanjutan. Agribisnis berkelanjutan mencakup hal-hal:

  • Orientasi ekologi atau stabil secara ekologis dimana ada tindakan preventif untuk mempertahankan kualitas sumberdaya alam maupun tindakan kuratif untuk memperbaiki kualitas sumberdaya alam yang ada. Pengelolaan agroekosistem untuk meminimalkan kehilangan unsur hara, biomas maupun kehilangan energi diikuti revitalisasi kuantitas dan kualitas sumberdaya alam merupakan salah satu bentuk upaya memperoleh kestabilan ekologi.
  • Orientasi kemanusian, yang menghargai kehidupan manusia dalam manajemen SDM.
  • Orientasi pengembangan IPTEK ramah lingkungan yang mendukung dan didukung oleh pemanfaatan IPTEK.
  • Orientasi ekonomi, yang mampu menjaga kelangsungan bisnis dan berdampak positif bagi ekonomi sekaligus mampu memenuhi kebutuhan konsumen dan menjaga kelestarian lingkungan.
  • Orientasi finansial yang adil, dimana terjadi distribusi pendapatan yang adil sehingga masyarakat dapat mandiri, produktif dan mampu memenuhi kebutuhannya.
  • Orientasi pengembangan organisasi yang fleksibel sehingga turut mengembangkan organisasi yang luwes dalam kehidupan sosial budaya di masyarakat.

Agribisnis yang berkelanjutan juga menumbuhkan kesadaran untuk menjaga kuantitas dan kualitas sumberdaya yang ada sehingga pada akhirnya akan memberikan keuntungan dengan peningkatan efisiensi dan efektifitas penggunaan sumberdaya, baik sumberdaya alam, sumberdaya manusia, IPTEK, pangsa pasar, industri finansial dan pengembangan institusi agribisnis

Hal-hal diatas merupakan alasan agar agribisnis selalu memperhatikan dampak ekologis untuk menjaga keseimbangan biosfir sehingga agribisnis tetap dapat berkelanjutan dan mampu menyangga kehidupan.

5. Bertujuan mencari profit

Sebagai aktifitas bisnis berbasis pertanian adalah tujuan agribisnis untuk mencari profit atau laba, karena fungsi profit adalah:

  1. Untuk mempertahankan usaha.
  2. Untuk mengembangkan usaha.
  3. Untuk memperoleh hasil usaha.
  4. Untuk reproduksi usaha

Muhammad Firdaus (2008) dalam bukunya Manajemen Agribisnis menuliskan laba harus ada karena :

  1. Laba merupakan kompensasi karena menanggung resiko
  2. Laba merupakan kompensasi karena adanya inovasi
  3. Laba merupakan kompensasi karena adanya perubahan situasi kondisi ekonomi dan pasar.

6. Karakteristik Agribisnis Menurut Para Ahli

Kegiatan agribisnis merupakan kegiatan ekonomi yang sama tuanya dengan peradaban manusia di bumi ini sehingga karakteristik agribisnis dipengaruhi oleh sifat-sifat alam dan jenis proses produksi, juga dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Saragih (1998) mengemukakan lima karakteristik penting agribisnis yang membedakannya dari bisnis lain :

  • Pertama, keunikan dalam aspek sosial, budaya, dan politik. Keberagaman sosial-budaya manusia turut membentuk keberagaman struktur, perilaku, dan kinerja agribisnis. Keberagaman ini dapat diamati baik dari segi produsen maupun konsumen. Jenis usahatani rakyat di Jawa dan Bali didominasi oleh usahatani lahan sawah. Sementara di luar Jawa dan Bali jenis usahatani yang menonjol adalah perkebunan rakyat. Petani asal etnis Bali yang terkenal ulet dan tekun relatif lebih berhasil dalam mengembangkan agribisnis di wilayah transmigrasi dari pada etnis lain untuk komoditas yang sama. Fragmentasi lahan pertanian terjadi di Indonesia, tetapi tidak di Jepang karena di negara ini hanya anak pertama yang berhak mewarisi lahan pertanian sedangkan di Indonesia semua anak berhak mewarisi. Dari segi konsumen, keberagaman sosial budaya konsumen mempengaruhi konsumsi pangan yang selanjutnya mempengaruhi agribisnis yang berkembang.
  • Kedua, keunikan karena adanya ketidakpastian (uncertainty) dalam produksi pertanian yang berbasis biologis. Ilmu genetika menunjukkan bahwa variasi produksi tanaman dipengaruhi oleh variasi genetik, lingkungan (macroclimate, microclimate), dan interaksi genetik dengan lingkungan. Berdasarkan ketiga faktor ini dikenal berbagai macam komoditas agribisnis tropis dan subtropis; komoditas agribisnis yang memiliki toleransi lingkungan yang luas (misalnya ubi jalar), komoditas spesifik lokasi (kelapa sawit, sapi perah, dll). Bahkan untuk komoditas yang sama, misalnya jeruk, dikenal rasa yang beraneka macam dari pahit sampai yang paling manis. Dengan dasar biologis juga dikenal bahwa produk agribisnis bersifat voluminous, bulky, dan perishable yang membedakannya dengan produk-produk non-agribisnis.
  • Ketiga, keunikan dalam derajat atau intensitas campur tangan politik dari pemerintah. Produk-produk agribisnis khususnya bahan pangan merupakan kebutuhan dasar (basic needs) dan sering dipandang sebagai komoditas politik sehingga sering diintervensi oleh politik pemerintah. Sektor agribisnis juga sering diproteksi sangat tinggi, seperti di Jepang, guna mempertahankan sebagian wilayahnya tetap sebagai ekosistem pertanian.
  • Keempat, keunikan dalam kelembagaan pengembangan teknologi. Peranan sektor agribisnis yang sangat penting dalam setiap negara menyebabkan pengembangan teknologi pada sektor ini menjadi salah satu bentuk layanan umum yang disediakan oleh pemerintah. Di Indonesia misalnya, kelembagaan pengembangan teknologi di bidang agribisnis, seperti Balai Penelitian Padi di Sukamandi, dibiayai oleh anggaran pemerintah. Hal ini berbeda dengan industri non-agribisnis yang pada umumnya dibiayai oleh perusahaan swasta itu sendiri.
  • Kelima, perbedaan struktur persaingan. Agribisnis merupakan satu satunya sektor ekonomi yang paling banyak melibatkan pelaku ekonomi. Pelaku ekonomi pada sektor agribisnis, produsen dan konsumen, pada umumnya berukuran relatif kecil dibandingkan dengan besarnya pasar. Selain itu, hampir semua komoditas agribisnis memiliki produk substitusi. Komoditi bahan pangan sumber karbihidrat misalnya memiliki ratusan jenis. Demikian juga terdapat puluhan jenis komoditas sumber protein, vitamin, dan mineral. Karakteristik seperti ini menunjukkan bahwa struktur pasar agribisnis lebih mendekati struktur pasar persaingan sempurna. Hal ini berbeda dengan struktur pasar pada industri lain yang pada umumnya berkisar antara struktur pasar monopolistik atau monopsonistik hingga oligopolistik atau oligopsonistik.

C. FUNGSI DAN RUANG LINGKUP AGRIBISNIS

Berdasarkan sistem agribisnis hulu-hilir, fungsi dan ruang lingkup agribisnis terbagi menjadi :

  • Agribisnis hulu : merupakan agribisnis yang menangani faktor produksi dan sarana untuk usaha tani. Dikenal juga dengan agribisnis input
  • Agribisnis usaha tani : merupakan agribisnis yang melakukan usaha pemanenan energi surya melalui proses fotosintesis. Dikenal juga dengan agribisnis produksi.
  • Agribisnis hilir : merupakan agribisnis yang mengolah output/hasil produksi agribisnis. Dikenal juga dengan agribisnis proses dan manufaktur.
  • Agribisnis penunjang : seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis. Dikenal dengan agribisnis jasa.

Fungsi dan ruang lingkup sistem agribisnis hulu-hilir bila dianggap perlu masih dapat dikembangkan dengan integrasi vertikal dan integrasi horizontal. Andaikan pengembangan sistem dilakukan dengan model dua dimensi maka akan ada pengembangan sumbu X dan pengembangan sumbu Y.

Berdasarkan sumbu X, pengembangan agribisnis dapat dilakukan dengan integrasi horisontal (Horizontal Integration) yang merupakan strategi untuk mengendalikan para pesaing.

  • Terkait ke sisi kanan (right side linkage): merupakan integrasi beberapa perusahaan yang merupakan pesaing langsung karena memiliki alur sistem agribisnis hulu-hilir yang sama, tujuannya adalah meniadakan persaingan dan menguasai akses pasar. Misalnya integrasi sesama agribisnis pakan ternak.
  • Terkait ke sisi kiri (left side linkage): merupakan integrasi beberapa perusahaan yang bukan merupakan pesaing langsung tetapi saling berkompetisi sebagai produk komplementer atau sebagai produk substitusi, tujuannya adalah meminimalkan persaingan dan menguasai pasar. Misalnya agribisnis daging sapi dengan agribisnis telur dan daging ayam.

Berdasarkan sumbu Y pengembangan agribisnis dapat dilakukan dengan strategi integrasi vertikal (vertical integration strategies) yaitu merupakan strategi perusahaan untuk menguasai alur sistem agribisnis dari hulu sampai hilir, mulai dari pemasok bahan baku hingga distribusi pemasaran. Integrasi dilakukan dengan cara merjer, akuisisi, atau membuat perusahaan tersendiri.

  • Integrasi hulu – on farm atau terkait kebelakang (backward linkage) : pengembangan agribisnis dengan menggabungkan agribisnis hulu dengan agribisnis on farm. Tujuannya adalah agar lebih menguasai bahan baku, faktor produksi dan sarana penunjang produksi.
  • Integrasi on farm – hilir atau terkait kedepan (forward linkage) : pengembangan agribisnis dengan menggabungkan agribisnis on farm dengan agribisnis hilir. Tujuannya adalah agar lebih dekat ke konsumen.
  • Integrasi hulu – on farm – hilir atau integrasi terkait dari belakang hingga depan (backward-forward linkage) : pengembangan agribisnis dengan menggabungkan agribisnis hulu, agribisnis on farm dan agribisnis hilir. Tujuannya adalah menguasai bahan baku dan lebih dekat ke konsumen.
  • Integrasi satu alur (hulu – on farm – hilir – penunjang) atau integrasi penuh (full integration) : pengembangan agribisnis yang mengintegrasikan agribisnis hulu, on farm, hilir dan penunjang. Tujuannya menguasai satu sistem agribisnis hulu-hilir.

Pengembangan sistem agribisnis hulu – hilir dapat digambarkan dalam bentuk dua dimensi dimana usaha tani sebagai titik pangkal (0,0), sumbu vertikal Y merupakan alur hulu-hilir untuk pengembangan terkait kebelakang dan kedepan (backward-forward linkage). Sumbu horizontal X merupakan persaingan langsung – tidak langsung untuk pengembangan kekanan dan kekiri (right-left side linkage) Skema pengembangan yang dapat dilakukan adalah:

clip_image002

Gambar I. 2. Koordinat Agribisnis Horizontal-Vertikal

Integrasi dilakukan karena beberapa alasan, diantaranya:

1. Membangun penghalang masuk bagi kompetitor (barriers to entry)

Penguasaan pengadaan input hingga distribusi output menjadikan penghalang bagi kompetitor untuk masuk, artinya, mengurangi persaingan di dalam industri, dan mampu menjual dengan harga yang lebih tinggi atau membuat produk dengan harga lebih murah.

2. Memungkinkan investasi dalam bentuk asset yang spesifik.

Asset spesifik ialah asset yang didisain untuk tujuan tertentu. Investasi pada asset spesifik sangat sulit karena alasan ketergantungan pada pembeli produknya sehingga perusahaan lebih baik dan lebih aman untuk investasi sendiri dengan melakukan integrasi vertical.

3. Melindungi mutu produk.

Integrasi vertikal bertujuan untuk melindungi dan menjaga mutu sekaligus memiliki keunggulan untuk diferensiasi usaha.

4. Menjaga dan memperbaiki jadwal produksi.

Penguasaan bahan baku dan faktor produksi membuat perusahaan mampu menyesuaikan jadwal produksi dengan permintaan konsumen.

Kelemahan integrasi vertikal:

1. Ongkos produksi menjadi mahal, bila perusahaan harus membeli input dari supplier sendiri yang lebih mahal dibandingkan dengan supplier luar yang lebih murah. Supplier sendiri menjadi kurang kompetitif karena tahu sudah ada pembeli.

2. Perusahaan dapat tidak mengikuti perkembangan teknologi dan terjerat pada bisnis dengan teknologi usang.

3. Kesulitan mememenuhi permintaan bila terjadi ketidakstabilan permintaan karena sulit mengkoordinir kegiatan yang terintegrasi vertikal. Bila permintaan turun, ada kapasitas produksi tidak maksimal, bila permintaan naik akan kesulitan memperoleh faktor produksi dan bahan baku..

Untuk menanggulangi kelemahan integrasi vertikal, ada solusi dengan cara membangun Hubungan Kooperatif & Strategi Outsourcing, yaitu:

  1. Short-term Contracts & Competitive Bidding

Kontrak jangka pendek dan penawaran kompetitif. Kontrak jangka pendek umumnya berjangka 1 tahun atau kurang. Penawaran kompetitif dilakukan untuk pengadaan inputs atau distribusi output.

Kontrak jangka pendek dan penawaran kompetitif dilakukan karena supplier segan melakukan investasi atau karena perusahaan tidak memperoleh banyak manfaat dengan integrasi vertikal.

  1. Aliansi Strategik & Long-term Contracts.

Aliansi strategi dikenal dengan kontrak jangka panjang merupakan hubungan kerjasama antara dua perusahaan. Perusahaan A setuju memasok perusahaan B dan perusahaan B sepakat membeli dari A untuk jangka panjang. Aliansi strategi mencegah biaya birokrasi tinggi dan menciptakan nilai bagi A dan B sehingga merupakan substitusi integrasi vertikal.

Hubungan kerjasama jangka panjang dibangun dengan beberapa cara:

  1. Hostage taking, adalah menciptakan ketergantungan satu sama lain untuk menjamin mitra menunaikan kewajiban sesuai kesepakatan.
  2. Credible commitments. Komitmen yang dapat dipercaya untuk membangun kerjasama jangka panjang yang saling menguntungkan.
  1. Memelihara disiplin pasar. Melakukan renegosiasi periodik atau kebijakan menggunakan sumber yang paralel (parallel sourcing policy) dengan menggunakan dua atau lebih pemasok sekaligus secara tidak kentara dengan tujuan menghindari tidak kompetitifnya penawaran dari pemasok.

D. KLASIFIKASI

Klasifikasi agribisnis ada bermacam ragam, hal yang penting diketahui adalah tujuan dalam melakukan klasifikasi tersebut. Agribisnis dapat diklasifikasikan berdasarkan sistem hulu – hilir, agribisnis dapat diklasifikasikan berdasarkan pembagian sektor pangan – non pangan, dapat pula diklasifikasikan berdasarkan jenis pengelolaan SDA, berdasarkan dampak ekologi, berdasarkan jumlah SDM, berdasarkan tingkat teknologi yang digunakan, berdasarkan besarnya pasar yang dikuasai, berdasarkan jumlah omset, berdasarkan besarnya investasi dan modal kerja, bahkan berdasarkan jenis organisasinya.

Klasifikasi berdasarkan sistem agribisnis hulu – hilir :

  1. Agribisnis Hulu
  2. Agribisnis Usaha Tani
  3. Agribisnis Hilir
  4. Agribisnis Penunjang

Klasifikasi berdasarkan sistem agribisnis pangan – non pangan :

  1. Agribisnis Pangan
  2. Agribisnis Non Pangan

Klasifikasi berdasarkan tingkatan kebutuhan:

  1. Agribisnis Primer
  2. Agribisnis Sekunder
  3. Agribisnis Tersier
  4. Agribisnis Barang Mewah

Klasifikasi berdasarkan dampak ekologi

  1. Agribisnis Hijau
  2. Agribisnis Ramah Lingkungan
  3. Agribisnis Dampak Negatif
  4. Agribisnis Dampak Positif

Klasifikasi berdasarkan sifat fisiknya:

  1. Agribisnis untuk pemenuhan kebutuhan fisik
  2. Agribisnis untuk pemenuhan kebutuhan nonfisik/rohani/mental

Klasifikasi berdasarkan komoditinya:

  1. Agribisnis holtikultura
  2. Agribisnis tanaman semusim
  3. Agribisnis tanaman tahunan
  4. Agribisnis tanaman campuran

Klasifikasi berdasarkan ketersediaan lahan:

  1. Agribisnis lahan terbatas
  2. Agribisnis lahan luas

Klasifikasi berdasarkan pelakunya:

  1. Agribisnis individu
  2. Agribisnis kolektif

Klasifikasi berdasarkan IPTEK:

  1. Agribisnis berbasis IPTEK tepat guna
  2. Agribisnis berbasis IPTEK sederhana
  3. Agribisnis berbasis IPTEK madya
  4. Agribisnis berbasis IPTEK tinggi

Klasifikasi berdasarkan pemasaran:

  1. Agribisnis berbasis pasar konsumen, pasar bisnis dan pasar faktor produksi
  2. Agribisnis berbasis pemasaran langsung, pemasaran tidak langsung dan pemasaran berjenjang

Klasifikasi berdasarkan industri finansial:

  1. Agribisnis berbasis modal sendiri atau modal pinjaman
  2. Agribisnis berbasis pembayaran cash atau kredit
  3. Agribisnis berbasis finansial jangka pendek atau jangka panjang

Klasifikasi berdasarkan organisasi:

  1. Agribisnis berbasis organisasi hubungan kerja : formal dan informal
  2. Agribisnis berbasis bentuk organisasi : organisasi lini, organisasi lini & staf, organisasi fungsi dan organisasi panitia
  3. Agribisnis berbasis tipe organisasi : mendatar, piramida atau pirimida terbalik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar