Rabu, 26 Mei 2010

MANAJEMEN WC DAN SEPTIK TANK (1)

Tantangan terbesar dari perbaikan sanitasi di masyarakat adalah persepsi masyarakat bahwa limbah domestik, WC atau toilet/kakus adalah ruang kotor yang ada dibelakang. Disisi lain keterbatasan sarana sanitasi (air kotor dan air bersih) masih merupakan kendala umum yang dihadapi masyarakat, terutama di daerah padat penduduk atau daerah kering. Implementasi WC dan Septic Tank yang memenuhi standar sanitasi merupakan satu cara menuju sanitasi yang berkelanjutan dan penghematan dalam penggunaan air. Teknologi bio toilet dapat dipergunakan karena sangat sederhana dan menggunakan bahan yang mudah diperoleh di daerah setempat.

A. Umum

Secara umum pengelompokan buangan limbah domestik dibagi 2 macam yaitu limbah dari buangan manusia yaitu dari : WC umum atau WC bersama, WC pribadi, serta limbah yang berasal dari hasil cuci dan mandi. Pada umumnya sistem limbah domestik rumah tangga tidak ditangani secara khusus melainkan dengan pengelolaan secara on site individual. Limbah yang dihasilkan pada umumnya berasal dari WC serta dari mandi dan cuci. Air mandi dan cuci masuk kedalam saluran air hujan sedangkan dari WC masuk kedalam tangki septik yang tergabung dengan bidang resapan. Tangki septik setelah beberapa waktu kemudian akan penuh oleh lumpur, dan akan diambil oleh truk tinja.

Air limbah yang berasal dari rumah tangga harus diolah atau dialirkan ke tempat pengolahan agar tidak menimbulkan pencemaran yang membahayakan kehidupan manusia dan lingkungan permukiman. Untuk itu harus ditangani dengan benar dan tuntas.

Air limbah yang dibuang sembarangan akan mengakibatkan :

  • Penyebaran penyakit, seperti diare, gatal-gatal, dan sebagainya.
  • Pencemaran lingkungan yang dapat menimbulkan kerugian berupa :
    • - Pengotoran terhadap sumber air bersih
    • - Timbulnya bau yang tidak sedap
    • - Keadaan lingkungan yang tidak nyaman/kotor.

Untuk menanggulangi air limbah diperlukan kesadaran tinggi dari masyarakat tentang arti kebersihan dan kesehatan sehingga diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, yang tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi menjadi kewajiban bersama oleh masyarakat.

Untuk menangani pembuangan air limbah terdapat beberapa sistem yaitu :

  • Sistem Sanitasi pembuangan setempat, yang biasa dikerjakan sendiri oleh masyarakat, yaitu dengan membuat cubluk atau tangki septik di halaman rumah sesuai dengan persayarat teknis yang berlaku.
  • Sistem Sanitasi pembuangan terpusat yaitu dengan membangun jaringan saluran air limbah yang akan mengalirkan limbahnya ke suatu tempat pengolahan.

Sedangkan dengan kondisi dan master plan desa, maka untuk penanganan sarana sanitasi yaitu dengan sistem sanitasi setempat. Adapun sarana yang akan dibangun yaitu Bangunan atas dan bangunan bawah yaitu untuk bangunan atas berupa WC dan bangunan bawah berupa tangki septik beserta bidang resapan.

MANAJEMEN WC DAN SEPTIK TANK (2)

B. Kondisi Eksisting Pengelolaan Air Limbah

Untuk pengelolaan limbah di pedesaan (beberapa kasus di desa P. Sumatera, Kalimantan, Sulawesi), pada umumnya limbah yang dihasilkan berasal dari WC dan dari mandi dan cuci. Air mandi dan cuci masuk kedalam saluran air hujan dan dari WC masuk ke dalam tangki septik yang tergabung dengan bidang resapan. Sebagian besar rumah warga tidak mempunyai WC. Dampaknya warga tidak mempunyai tempat pembuangan limbah yang memadai, sanitasi menjadi buruk, timbul genangan, dan bau tidak sedap. Dibeberapa lokasi telah dibangun WC Umum Oleh LSM, Pemerintah atau Bantuan Negara Donor.

clip_image002clip_image004

Gambar Sarana Sanitasi Yang Digunakan Warga : (a) WC Pribadi (b) WC / MCK Umum

Berdasarkan tingkat kepadatan penduduk kurang dari 200 jiwa/ha, masih tersedianya lahan untuk tangki septik dan peresapan, maka pengelolaan limbah rumah tangga (domestik) dilakukan dengan sistem pembuangan setempat (on site sanitation), yaitu pembuangan tinja dari jamban pada masing-masing rumah ke tangki septik dan peresapan, sedangkan air mandi, cuci dan dapur disalurkan ke bidang resapan atau saluran drainase.

MANAJEMEN WC DAN SEPTIK TANK (3)

C. Rencana Pengelolaan Air Limbah

Sebagai conton pengelolaan air limbah, berdasarkan hasil survei diperoleh rencena jangka pendek untuk membuat MCK umum, dimana 1 (satu) MCK umum akan digunakan untuk 10 KK atau 50 jiwa. Lokasi pembuatan MCK umum direncanakan menyesuaikan dengan penempatan kran umum/sumur. Satu unit MCK bisa terdiri dari 1 ruang cuci, 2 unit kamar mandi dan 2 unit WC/kakus yang terpisah untuk digunakan satu oleh pria dan satu lagi oleh wanita dengan satu tangki septik. Pengelolaan dilakukan secara individu atau on site sanitation dilakukan oleh satu atau lebih rumah secara bersama.

Sedangkan untuk jangka panjang direncanakan setiap rumah mempunyai 1 WC dengan tangki septik. Pembangunan tangki septik di masing-masing rumah harus memenuhi standar yang berlaku, seperti pada tabel berikut :

No.

Jumlah Pemakai (org)

Keb. ruang lumpur (m3)

Keb. ruang lumpur (m3)

kebutuhan ruang basah (m3)

Ruang bebas air
(m3)

Vol Total (m3)

Vol Total  (m3)

p (m)

l (m)

t (m)

p (m)

l (m)

t (m)

  2 thn 3 thn 2 thn 3 thn 2 thn 2 thn 2 thn 3 thn 3 thn 3 thn

1

5

0.4

0.6

1

0.25

1.65

1.85

1.6

0.8

1.3

1.7

0.85

1.3

2

10

0.8

1.2

2

0.5

3.3

3.7

2.2

1.1

1.4

2.3

1.15

1.4

3

15

1.2

1.8

3

0.75

4.95

5.55

2.60

1.3

1.5

2.75

1.35

1.5

4

20

1.6

2.4

4

1

6.6

7.4

3

1.5

1.5

3.2

1.55

1.5

5

25

2.0

3.0

5

1.25

8.25

9.25

3.25

1.6

1.6

3.4

1.7

1.6

MANAJEMEN WC DAN SEPTIK TANK (4)

D.1 Perencanaan Kebutuhan Prasarana Air Limbah

  1. Analisis penggunaan sistem pengelolaan air limbah berdasarkan kondisi sosial budaya masyarakat, kepadatan permukiman, kondisi lahan, air tanah.
  2. Perhitungan tingkat kebutuhan prasarana berdasarkan sistem yang digunakan, jumlah penduduk dan tingkat pelayanannya.
  3. Kriteria sistem pembuangan setempat (on site sanitation)
  • Kepadatan penduduk < 200 jiwa/ha.
  • Kepadatan antara 200 - 500 jiwa/ha masih dimungkinkan apabila penduduk tidak menggunakan air tanah untuk sumber air bersih dan daya resap tanah memenuhi syarat (100 - 105 cm/det).
  • Tersedia lahan untuk tangki septik dan peresapan.
  • Tersedia truk tinja untuk penyedotan

4. Kriteria sistem pembuangan limbah terpusat (off site sanitation) :

  • Kepadatan penduduk lebih dari 500 jiwa / ha
  • Kepadatan penduduk antara 201- 500 jiwa masih memungkinkan bila air tanah sudah tercemar, sebagian besar penduduk menggunakan air tanah, permeabilitas tanah jelek, penduduk mampu membayar iuran.
  • Cocok untuk daerah yang baru dibangun dan peka terhadap lingkungan.

MANAJEMEN WC DAN SEPTIK TANK (5)

E. Bangunan Atas ( MCK )

1. Lokasi

  1. Dapat ditempatkan diluar rumah atau didalam rumah
  2. Dapat merupakan bangunan ynag berdiri sendiri atau bagian dari rumah induk.
  3. MCK harus mudah dicapai dengan aman dan mudah bila hari hujan atau malam hari.
  4. Dapat dibangun dekat sumur gali (sumber air) dengan memperhatikan jarak bangunan bawah terhadap sumur (10-15) meter.

2. Penyediaan Air Bersih

a. Sumber Air

Sumber air yang akan dipergunakan untuk keperluan MCK keluarga atau MCK sekolah diambil dari sumber air yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (mandi, cuci, masak)

b. Kuantitas Air

Kuantitas air bersih yang dibutuhkan sekurang-kurangnya 10 l/org/hr yang akan digunakan untuk membilas

c. Kualitas Air

Kualitas air bersih yang dipergunakan disarankan memenuhi persyaratan air minum /air bersih.

3. Bahan Bangunan

a. Kriteria Bahan Bangunan

  1. Kemudahan penyediaan
  2. Kemudahan pelaksanaan
  3. Kekuatan dan keandalan konstruksi
  4. Dapat diterima oleh masyarakat pemakai.

b. Persyaratan Bahan Bangunan

Bahan bangunan yang digunakan harus memenuhi persyaratan seperti tercantum dalam buku SK SNI.

4. Teknis

a. Standar Bangunan Atas (Rumah MCK)

Rumah MCK dapat dibuat dari beberapa bentuk sesuai jenis bahan yang dapat di pakai, untuk itu secara umum rumah MCK di bagi 3 kategori, yaitu:

  1. 1) Sederhana, yaitu dibuat dari bahan yang sangat sederhana dan paling murah, alang - alang, daun pohon kelapa, gedeg dan lain - lain.
  2. 2) Semi permanent, yang dibuat dari bahan bambu (gedeg) untuk dinding atau kayu dan atap dari seng gelombang.
  3. 3) Permanen, yaitu dibuat dari pasangan bata dengan atap seng gelombang.

Untuk WC sekolah juga perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. 1) Memerlukan pemisahan kelompok ruangan bagi wanita dan pria.
  2. 2) Memerlukan urinoir / tempat pembuangan air kecil yang terpisah dari WC pria.
  3. 3) Jumlah / ukuran WC dan urinoir tergantung pada kapasitas pelayanaan yang telah ditentukan berdasarkan jumlah pelajar dan pengurus sekolah

Tipe WC ditentukan oleh luas lantai yang akan dibangun:

  1. · Tipe A : Luas lantai 1,20 m2
  2. · Tipe B : Luas lantai 1,30 m2
  3. · Tipe C : Luas lantai 3,00 m2

Tabel Tipe WC

Tipe

Luas lantai

(m2)

Pondasi

(m2)

Luas Dinding

(m2)

Luas Atap

(m2)

A

1,20

3,4

7,2

2,8

B

1,30

3,6

9,0

3,1

C

2,00

5,2

16,6

4,1

b. Tata cara pembuatan

1) Membuat Pondasi

  • i. Buatlah patok batas pondasi dan buat parit pondasi dengan lebar 20-30 cm dan dalam 40 cm.
  • ii. Dasar pondasi harus rata.
  • iii. Temboklah barisan batu kali bata pertama dengan lebar sambungan sekitar 1-5 cm
  • iv. Penembokan harus rata, uji dengan waterpass dan gunakan alat siku untuk menyiku sudut-sudut.
  • v. Pasangan bata / batu kali menggunakan adukan semen : pasir = 1 : 4 atau kapur : pasir = 1 : 3
  • vi. Pasangan harus rapi dan baik, sediakan lubang pipa masuk dari WC atau bak kontrol dan juga lubang pembuangan air basuhan.
  • vii. Pasangan batu kali / bata yang paling atas sekurang-kurangnya terletak 15 cm di atas permukaan tanah.

2) Memasang Plat Jongkok dan Leher Angsa

  • i. Sambungan plat jongkok ke leher angsa (bersifat sementara), sambungan agak longgar dan permukaan plat jongkok rata dengan pondasi.
  • ii. Uji kelandaian pipa dan kelancaran aliran air dengan menuang air ke dalam plat jongkok, kemudian lepaskan lagi plat jongkok.
  • iii. Urug tanah setebal 10 cm, padatkan.
  • iv. Tuangkan lapisan beton pertama setebal 7,5 cm, semen : pasir : kerikil = 1 : 6 : 12.
  • v. Tuangkan lapisan beton kedua setebal 2 cm, semen : pasir : kerikil = 1 : 6 : 12.
  • vi. Lapisi bagian dalam leher angsa dengan adukan semen : pasir = 1 : 1 dan pasang plat jongkok ditempatnya dengan kokoh dan rata dengan lantai

Pastikan permukaan pelat jongkok rata dengan lantai WC. Pulas lantai dengan papan atau sikat sehingga permukaan agar kasar.

3) Menyiapkan Kusen

  • i. Buatlah kusen dengan ukuran 65 cm – 70 cm (lebar) dan 1,80 cm (tinggi).
  • ii. Pasang kusen (harus tegak lurus) dengan memasang penyokong pada sisi-sisinya.
  • iii. Pasang angker pada kusen sehingga pertemuan dengan dinding menjadi kokoh.

4) Mendirikan Dinding

  • i. Dinding Bawah
  • ii. Pasang tiang-tiang penyongkong agar pasangan bata tetap tegak lurus.

a. Pasanglah lapisan pertama, mulai dari sudut-sudut dan berakhir di tengah-tengah.

b. Tancap batang pengukur di sudut pertemuan bata, rentangkan tali pengikat datar pada setiap pemasangan lapisan bata.

c. Pasang dinding bata

d. Plesterlah dengan adukan semen : pasir = 1 : 2 setebal 0,5 cm dengan rata bagian-bagian :

  • § Dinding luar, agar terlindung percikan air hujan;
  • § Lantai WC dibuat miring agar air mudah mengalir;
  • § Dinding dalam, supaya mudah dibersihkan.

e. Ratakan permukaan plesteran sampai rata dan halus.

  • iii. Dinding Atas
    • a. Dapat dibuat dari batako, batu merah, kayu, bambu dengan dinding papan kayu atau anyaman bambu.
    • b. Tiga sisi dinding dibuat setinggi 1,80 – 2, 0 meter dari lantai dinding yang ke empat 20 cm hingga 40 cm lebih tinggi agar diperoleh atap yang landai (miring)
    • c. Dinding dapat pula dibuat setinggi 1,5 meter (dari lantai), bagian atas dibiarkan terbuka atau dinding setinggi 1 meter di atasnya rangka kayu atau bambu dan dinding papan atau anyaman bambu.

5) Membuat Bak

  • i. Bak air diperlukan untuk menyimpan air penggelontoran, yang dapat menampung air sebanyak 100 liter. Ukuran minimum tinggi dan lebar 40 cm dan panjang 60 cm, dengan bahan menggunakan batako atau bata.
  • ii. Lantai bak harus cukup miring ke arah lubang penguras bak.

6) Memasang Atap

  • i. Bahan yang dapat digunakan : seng gelombang, atap plastik, daun kelapa, daun bambu, ijuk
  • ii. Atap sebaiknya menurun 20 cm (atau lebih) melebihi dinding untuk mencegah air hujan masuk melalui lubang angin.
  • iii. Atap genting.
    1. a. Menggunakan gording 6/10, dengan, jarak antara gording 1,5 – 2 m.
    2. b. Di atas gording dipasang kaso 5/7, jarak antara kaso 40 cm
    3. c. Di atas kaso dipasang reng 2/3, jarak antara 25 cm dipaku dengan kuat
    4. d. Setelah selesai genting dapat dipasang dengan rapi dan baik agar tidak terdapat celah-celah atau bocoran
  • iv. Atap plastik atau seng gelombang tidak membutuhkan reng.

7) Menyelesaikan Dinding

  • i. Dinding Dalam

Dinding terbuat dari batako atau batu bata

a. Plester dinding dengan adukan semen : pasir = 1 : 4 setebal 0,5 cm

b. Ratakan permukaan sampai rata dan halus

c. Bila sudah kering labur dengan cat tembok atau kapur

  • ii Dinding Luar

Pengerjaannya sama dengan dinding dalam

8) Menyelesaikan Pintu

  • i. Ukuran pintu tinggi 1,8 cm lebar 0,65 – 0,7 m
  • ii. Rangka pintu dapat dibuat dari kayu dan dilapisi seng atau alumunium.

9) Membenahi Sekitar MCK

  • i. Jagalah kebersihan sekitar MCK
  • ii. Pasang lampu agar MCK tidak gelap di malam hari
  • iii. Tempatkan keset di depan pintu agar sepatu atau sandal yang kotor dapat di bersihkan sebelum masuk WC dan sewaktu keluar dari WC.

MANAJEMEN WC DAN SEPTIK TANK (6)

F Tangki septik

F.1. Umum

Rencana pembangunan tangki septik baru dapat dilakukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

a. Bahan Bangunan

1) Persyaratan Bahan Bangunan

Pemakaian bahan bangunan untuk tangki septik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a). Bahan bangunan harus terhadap gaya yang mungkin timbul dan memenuhi ketentuan SK-SNI mengenai spesifikasi bahan bangunan;

b). Bahan bangunan harus lebih tahan terhadap keasaman dan kedap air.

2) Alternatif Pemakaian Bahan Bangunan

Bahan bangunan yang dapat digunakan untuk tangki septik dapat dipilih dari daftar bahan bangunan seperti tercantum dalam tabel 5.2 sesuai dengan komponen bangunan tangki septik.

Tabel Pemakaian Bahan Bangunan Untuk Tangki Septik

Komponen Bangunan Bahan Bangunan

Dasar Bangunan

Penutup

Pipa Penyaluran Air Limbah

Batu Kali

Bata Merah

Batako

Beton Biasa

Betong Bertulang

Asbes Semen

PVC

Keramik

Besi Plat

Catatan : √ = dianjurkan

b. Bentuk dan Ukuran

Bentuk dan ukuran tanki septik adalah sebagai berikut:

1). Tangki septik empat persegi panjang dengan perbandingan panjang dan lebar 2 : 1 sampai 3:1. Untuk lebar tangki sekurang-kurangnya 0,75 m dan panjang tangki sekurang-kurangnya 1,50 m.

Tinggi air dalam tangki sekurang-kurangnya 1,00 meter dan kedalaman maksimum 2,10 m. tinggi septik adalah tinggi air dalam tangki, ditambah dengan ruang bebas air sebesar (0,20 – 0,40)m dan ruang penyimpanan Lumpur. Dasar tangki dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk memudahkan pengurasan Lumpur. Dinding tangki septik harus dibuat tegak;

2). Tangki septik ukuran kecil yang hanya melayani satu keluarga dapat berbentuk bulat dengan diameter sekurang-kurangnya 1,20 m dan tinggi sekurang-kurangnya 1,00m;

3). Penutup tangki septik maksimum terbenam ke dalam tanah 0,40 m

Bentuk tangki septik ditentukan seperti dalam gambar rencana sedangkan ukuran tangki septik berdasarkan jumlah pemakai dapat dilihat pada berikut.

2. Standar dan kriteria teknis bangunan bawah

a. Kriteria Teknis Tangki Septik

  • Berbentuk empat persegi panjang dengan perbandingan panjang : lebar adalah 2:1 s/d 3:1. Lebar tangki minimum 0,75 m dan panjang tangki minimum 1,50 m dengan konstruksi yang kedap air
  • Tinggi tangki septik adalah tinggi air dalam tangki ditambah dengan ruang bebas sebesar (0,2 - 0,4 m).
  • Pipa outlet dan inlet berupa pipa T
  • Pipa penyalur air limbah dari bangunan atas maupun pipa peresapan mempunyai diameter minimum 7,5 cm untuk pipa PVC dan 15 cm untuk pipa tanah liat dengan kemiringan minimum (2-3%)
  • Dasar tangki dapat dibuat horizontal atau dengan kemiringan tertentu untuk kemudahan pengurasan Lumpur
  • Dinding tangki septik harus dibuat tegak
  • Tutup tangki septik terbuat dari beton dengan kedalaman maksimum terbenam dalam tanah 0,40 m untuk memudahkan inspeksi
  • Harus dilengkapi dengan resapan yang berbentuk sumur/parit/bidang resapan yang berjarak terdekat 10 s/d 15 meter dari sumur gali atau SPT yang menjadi sumber air bersih masyarakat (tergantung kondisi tanah setempat).
  • Waktu pengurasan Lumpur 2 s/d 3 tahun

b. Standar Tangki Septik

Bila daya resap tanah < 10 l/m2/hr dan tinggi muka air tanah < 1,5 m maka dipakai sistem tangki septik standar hanya untuk bangunan WC saja (tinja dan urine dapat dilihat dalam tabel berikut).

Tabel Ukuran Tangki Septik Berdasarkan Pemakai

Pemakai (org) Panjang (m) Lebar (m) Dalam (m)
5 1,2 0,6 0,8
10 1,4 0,7 1,2
15 1,5 0,8 1,2
20 1,8 1,0 1,2
25 2,0 1,0 1,2
30 2,0 1,0 1,4
35 2,2 1,0 1,4

Tabel Jarak Minimum Tangki Septik

Jarak Dari Tangki Septik Bidang Resapan
Bangunan 1.50 m 1.50 m
Sumur 10.00 m 10.00 m
Pipa air bersih 3.00 m 3.00 m

Tabel Bidang Resapan

Resapan

3. Lokasi

  • a. Dapat ditempatkan di luar atau di dalam rumah
  • b. Dapat merupakan bangunan yang berdiri sendiri atau bagian dari rumah induk
  • c. WC harus mudah dicapai dengan aman dan mudah bila hari hujan atau malam hari
  • d. Dapat dibangun dekat dengan sumur gali (sumber air) dengan memperhatikan jarak

4. Penyediaan Air Bersih

  • Sumber Air

Sumber air yang akan dipergunakan untuk keperluan WC keluarga diambil dari sumber air yang akan dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (mandi, cuci, masak)

  • Kuantitas Air

Kuantitas air bersih yang dibutuhkan untuk WC keluarga sekurang-kurangnya 10 l/org/hari yang akan digunakan untuk membilas.

  • Kualitas Air

Kualitas air bersih yang akan dipergunakan disarankan memenuhi persyaratan air minum / air bersih

5. Sistem Pembuangan Air Kotor

a. Pipa Air Kotor

Ketentuan pipa air kotor :

  1. Diameter minimum 15 cm untuk pipa yang terbuat dari tanah liat atau beton dan minimal 10 cm untuk pipa PVC.
  2. Kemiringan minimum 2% - 3%
  3. Di setiap belokan melebihi 45o dan perubahan kemiringan 22,5o harus dipasang Clean Out untuk pembersihan pipa/pengontrol.

b. Drainase (sistem pengeringan)

Perlengkapan drainase dimaksudkan untuk menyalurkan air hujan atau air bekas siraman yang tersisa kesaluran pengeringan umum (parit jalan) diameter minimal 10 cm

Sabtu, 22 Mei 2010

MANAJEMEN WC DAN SEPTIK TANK (7)

G. Analisa Perhitungan Air Kotor

G.1. Bangunan Atas

1. Pondasi

Pondasi rumah MCK adalah pondasi pasangan batu pecah atau batu karang dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Batu pecah harus keras, bersih dan tidak ada tanda-tanda pelapukan.
  • Batu karang harus keras, tidak terdapat tanda-tanda pelapukan, berwarna kuning putih atau kuning muda, tidak berwarna hitam atau abu-abu.
  • Ukuran pondasi sesuai dengan gambar, perekat yang digunakan adalah perekat dengan campuran 1 semen : 4 pasir.
  • Pasir yang digunakan harus bersih, berbutir tajam dan keras, sebelum pondasi dipasang, pada dasar lubang galian diberi lapisan batu kosong setebal 10 cm.

2. Dinding

  • Dinding MCK adalah pasangan batu merah dengan tebal 0.5 bata. Bata merah yang digunakan harus berkualitas baik, keras, berwarna merah tua, dengan ukuran standar.
  • Dinding diplester setebal 1,5 cm, kemudian sebelum dicat dinding harus diplamir terlebih dahulu.
  • Dinding diperkuat oleh sloof, kolom dan ring balok, seperti pada gambar dengan ukuran 12 cm x 12 cm dan campuran beton 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil atau batu pecah.
  • Pembesian adalah besi beton berdiameter 8 mm untuk tulangan pokok dan diameter 6 mm untuk sengkang dengan jarak 16 cm.

3. Lantai MCK

  • Lantai MCK berupa beton tumbuk tanpa pembesian dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 kerikil, setebal 5 cm.
  • Pada bagian tertentu dari lantai, diperlukan urugan pasir yang dapat untuk mencapai ketinggian yang diinginkan. Lantai beton tumbuk harus diplester dengan campuran 1 semen : 2 pasir dengan ketebalan rata-rata 1,5 cm dengan kemiringan 2% ke arah drain.

4. Atap

  • Atap MCK adalah atap seng gelombang BJLS 27 yang berkualitas baik. Rangka atap kayu Kamper atau yang sederajat dengan semua permukaan diserut halus dan bertumpu pada ring balk serta diperkuat dengan angker besi beton วพ 10 mm.
  • Rangka atap setelah terpasang, harus dilapisi meni kayu sampai merata, kemudian dicat dengan cat minyak.
  • Pada salah satu sisi atap dipasang talang, yang terbuat dari seng plat BJLS 27 sehingga pada saat hujan airnya dapat dialirkan ke reservoir agar dapat dipergunakan untuk keperluan MCK dan talang tersebut ditahan oleh kait-kait penahan talang dari besi plat dengan ukuran 2 cm, tebal 2 mm yang dipasang pada setiap jarak 50 cm.

5. Pintu Kayu.

  • Kusen pintu terbuat dari kayu kamper yang diserut halus dan berukuran sesuai gambar serta harus di meni dan dicat dengan cat minyak yang berkualitas baik.
  • Rangka pintu di bagian luar dilapisi triplek dengan ketebalan 3 mm dan bagian dalam dilapisi dengan seng plat BJLS 27.
  • Pintu dicat dengan cat minyak berkualitas baik, setiap pintu papan bagian dalam dipasang kunci selot dan dibagian luar dipasang kunci gembok.

6. Jendela

  • Jendela terbuat dari kayu kamper yang diserut halus dengan ukuran sesuai gambar, serta dimeni dan dicat minyak berkualitas.

7. Closet

  • Closet yang digunakan adalah closet jongkok leher angsa berkualitas baik dan dihubungkan ke tangki septik oleh pipa PVC dia. 100 mm class D.
  • Closet dipasang di atas pasangan bata (seperti pada gambar) dengan campuran perekat 1 semen : 2 pasir dan diplester setebal 1,5 cm dibagian dalam dengan campuran 1 semen : 2 pasir.

G.2 Bangunan Bawah

Dasar tangki septik adalah beton tumbuk dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 batu pecah. Dindingnya terbuat dari pasangan batu merah, dengan tebal setengah bata dan dengan campuran 1 semen : 4 pasir. Dinding dan dasar tangki septik bagian dalam diplester setebal 1.5 cm dengan campuran 1 semen : 2 pasir.

Tutup tangki septik terbuat dari beton bertulang dengan campuran 1 semen : 2 pasir : 3 batu pecah, dengan tulangan besi beton diameter 10 mm yang dipasang setiap 15 cm.

Tangki septik dilengkapi juga dengan pipa inlet dan pipa outlet PVC clas D diameter 100 mm dan pipa T diameter 100 mm pada bagian dalam dan juga dilengkapi dengan pipa hawa (udara) dengan jenis pipa PVC, dengan diameter 0.75”. Setelah pengecoran, beton dikeringkan dan ditutup dengan bejas sak semen selama 7 hari dan disiram pada siang hari, jangan dibiarkan terlalu kering.

Kriteria Perencanaan :

  • - Pemakai MCK = 10 KK = 50 org
  • - Akumulasi lumpur tinja = 65 l/org/thn = 0,065 m3/org/thn
  • - Kebutuhan air untuk MCK = 20 l/org/hr = 0,02 m3/org/hr
  • - Periode pengurasan lumpur tangki septik = 2 tahun
  • - Masa tinggal air dalam tangki = 3 hari
  • - Perbandingan panjang : lebar = 1 : 2
  • - Kedalaman tangki direncanakan = 1,6 m + 0,2 m (ruang bebas)

Perhitungan Tangki Septik :

  • Akumulasi volume lumpur periode kuras :

Volume lumpur = pemakai MCK x akumulasi lumpur tinja x periode pengurasan

= 50 org x 0,065 m3/org/thn x 2 thn

= 6,5 m3

  • Volume tangki untuk masa tinggal air 3 hari :

Volume air = masa tinggal air x keb. Air untuk MCK x pemakai MCK

= 3 hari x 0,02 m3/org/hr x 50 org

= 3 m3

  • Volume total tangki yang dibutuhkan :

Volume total = Volume lumpur + Volume Air

= 6,5 m3 + 3 m3

= 9,5 m3

  • Luas permukaan tangki (A) :

A = clip_image002

A = clip_image004

A = 5,9 m2 ≈ 6 m3

- Panjang dan lebar tangki :

P = 2L

A = P x L

A = 2L x L

A = 2L2

L = clip_image006

L = clip_image008m

clip_image009L = 1,75 m P = 2L = 2 x 1,75 m = 3,5 m

Ukuran tangki septik yang direncanakan adalah sebagai berikut :

  • Panjang = 3,5 m
  • Lebar = 1,75 m
  • Tinggi = 1,6 m

G.3 Bidang Resapan

  • Membuat pipa PVC berlubang-lubang sepanjang pipa
  • Galian tanah sesuai dengan ukuran bidang resapan
  • Hamparkan batu pecah ukuran 3-5 cm setebal 15 cm
  • Hamparkan batu kerikil 2-3 cm setebal 15 cm
  • Letakkan pipa berlubang dan sambungan ke tangki septik
  • Hamparkan batu kerikil 1-2 cm setebal 15 cm
  • Urug dengan tanah sampai ke permukaan dan dipadatkan.

Kriteria Perencanaan :

  • Pemakai MCK = 10 KK = 50 org
  • Infiltasi = 10 l/m2/hari

Perhitungan Bidang Resapan :

  • Parit Resapan :

Panjang (L) = clip_image011

= clip_image013

= 31,25 m

  • Bidang Resapan :

Panjang = 6 m

Lebar = 1 m

Tinggi = 0,45 m